Asal Mula Marga Mainake



Kebudayaan itu ibarat sebuah lensa, di mana ketika kita mau meneropong sesuatu kita akan memakai lensa itu untuk melihat objek itu dengan lebih seksama pada fokus tertentu. Dengan demikian Margapun adalah salah satu bagian dari kebudayaan, karena marga terbentuk dari kebudayaan itu sendiri. Salah satunya adalah Marga Mainake.
Dahulu kala hiduplah lima saudara yang tinggal di karaton Surakarta. Saat terjadi peperangan di Keraton Surakarta pada abad ke – 14, maka mereka lari ke Ambon. Mereka pun mendapati sebuah goa. Dan untuk sementara mereka memilih untuk berada di dalam goa itu untuk berlindung. Mereka bertemu dengan raja pertama di dalam goa. Mereka pun pergi dari goa dan menuju ke Ambon. Tempat pertama kali mereka singgah dan menginjakkan kaki di Ambon adalah Pintu Kota. Lima saudara ini diantaranya :
1.             Lehareu yang berasal dari Kilang
2.            Mainake yang lebih dikenal dengan Kapitan Sounussa
3.            Narua yang berasal dari Latuhalat
4.            Tuhumury yang berasal dari Latuhalat
5.            Belum tahu jelas namanya siapa, karena dalam perjalanan ke Ambon dia tenggelam.
Dari keempat saudara Kapitan Sounussa ini, salah satunya mempunyai telinga yang besar seperti telinga babi. Karena malu melihat hal ini, makanya mereka pun membunuh saudara tersebut. Dahulu tempat saudara mereka tinggal (dati) bertempat pada SMA NEG 10 sampai di tempat pos polisi.
Ketika sampai di Ambon, mereka memasuki daerah Amahusu. Dimana saat itu daerah Amahusu sudah ditempati oleh marga Siloy. Siloy merupakan marga yang menjadi turunan raja. Dan marga ini yang akan menjadi raja bagi Amahusu. Pada saat itu Kapitan dari Siloy adalah Kapitan Latupapua atau lebih dikenal dengan Kapitan Soplani.

Pada saat itu, ada dua saudara yang tinggal di Urimessing yaitu Matitameteng dan Matitaputty. Pada saat itu orang tua mereka menanam tanaman sukung dengan syarat, bagian atas pohon sukung itu milik Matitameteng sebagai kakak, sedangkan bagian bawah dari pohon sukung itu milik Matitaputty sebagai adik. Namun suatu ketika, Matitameteng tidak mau memberikan sukung kepada Matitaputty.
Perilaku dari Matitameteng itulah membuat Matitaputty meminta bantuan ke Amahusu. Ini disebabkan karena Matitaputty tidak dapat melawan Matitameteng yang memiliki ilmu gaib. Dan pada saat itu, Matitaputty meminta bantuan di Harusi yakni dia meminta bantuan pada keempat saudara Mainake untuk membunuh Matitameteng. Di Harusi, keempat saudara ini berunding dan menunjuk Kapitan Sounussa untuk membantu Matitaputty membunuh Matitameteng. Kapitan Sounussa menyuruh Matitaputty untuk pergi duluan ke tempat Matitameteng. Namun ketika sampai disana Kapitan Sounussa sampai duluan di Tempat tinggal Matitameteng yang disebut orang tua – tua dulu adalah Harlaka artinya tempat kecelakaan. Disana, mereka makan pinang bersama – sama dengan cara pinang di taruh pada ujung parang dan dibagikan ke masing – masing.
Mainake menyuruh Matitameteng memotong duluan, namun setelah tiga kali memotong tidak kena di Mainake. Dan Mainake pun memotong sekali saja dan mengenah di kemaluan Matitameteng. Akhirnya Matitameteng pun meninggal dunia. Dan setelah Matitameteng meninggal, Mainake pun memberitahukan hal itu pada Matitaputty bahwa dia telah membunuh Matitameteng dengan menikam kemaluannya. Mendengar hal itu, Matitaputty takut untuk pulang ke Haurusi. Akhirnya, untuk sementara Matitaputty tinggal di Amahusu. Dari sinilah, Mainake disebut Kapitan paling kuat. Mainake tinggal dan menetap di Amahusu. Dan berperan sebagai kapitan yang bertugas mengamankan daerah Amahusu dari  serangan daerah lain. Ketika berperang, Mainake selalu membawa dua ekor anjing yang bernama :
·                     Asopau
·                     Tomarike
Ketika berperang, kedua anjing ini biasanya diberi makan dan minum oleh marga Saliha dan Akiar. Dan kedua marga ini merupakan orang suruhan yang bertugas melihat anjing – anjing Mainake.
Ternyata anjing – anjing dari Kapitan Sounussa ini juga memiliki kekuatan – kekuatan yang tak pernah diketahui oleh Kapitan Sounussa. Buktinya adalah kedua anjing tersebut juga ikut berperang, yang pada saat itu kedua anjing itu memotong batu karang  yang berada pada gunung nona dengan parangnya dan jatuh menimpah prajurit – prajurit raja Ilang Treta, raja Hermalete dari Urimesing.
Suatu ketika, seorang kapitan mendapati kedua anjing itu lalu mereka pun membunuh dan memasaknya setelah itu memakannya. Ketika mereka memakan anjing – anjing itu, mereka pun tewas seketika. Dan Kapitan Sounussa atau yang lebih dikenal dengan Mainake, pun menjadi Kapitan paling kuat saat itu.
Suatu ketika Kapitan Mainake bertemu dengan Kapitan perempuan yang berasal dari Hatalai. Nama dari Kapitan perempuan itu adalah Niniahum. Mereka berdua bertanding untuk menunjukkan kekuatan masing – masing. Namun penulisngnya, diantara keduanya sama kuat. Dan akhirnya mereka membunuh  anak gadis dari seorang Kapitan Negeri Soya bernama Ilang Trete dan mereka meminum darahnya dan mengangkat pela yaitu pela minum darah antara Hatalai dan Amahusu. Jadi, Amahusu dan Hatalai dilarang kawin. Namun, larangan itu tidak terlalu mengikat.
Kapitan Sounussa punya anak laki – laki kawin dengan buiratang yakni turunan Siloy yang datang dari Banda, untuk menurunkan keturunan Mainake – Mainake selanjutnya. Yang turunannya terbagi atas dua yaitu : Barnabas Mainake dan Paulus Mainake.
Mainake dijuluki AMAN UPU, yang artinya Tuan Negeri
Teung Negeri (Nama Negeri) adalah Harmalakabessy, yang menunjuk pada unsur kelakilakian dalam sejarah pela Amahusu. Silawanabessy, yang menunjuk pada unsur kewanitaan di Hatalai.
Sedangkan, Sounussa sendiri artinya suara pulau atau suara dari pulau. Hal ini dikarenakan pada saat Kapitan Sounussa memanggil dengan menggunakan kulibia pada saat dia sampai di daerah Matitameteng. Menurut cerita, kulibia ini tidak dapat ditiup oleh sembarang orang karena jika ditiup oleh sembarang orang kulibia itu tidak dapat berbunyi.
Perda Kota Ambon No 3, menetapkan Mainake sebagai salah satu kepala soa di daerah Amahusu. Dan yang menjadi Kepala Soa sekarang adalah Drs. Hans Mainake yang bertempat tinggal di Poka.
Bagi anak cucunya, Kapitan Mainake meninggalkan alat – alat perkakas yang biasa digunakannya, diantaranya adalah kulibia, parang dan salawaku. Salawaku yang di sekarang berada di rumah tua ( balileo ), berumur 600 tahun. 


Salah satu kebudayaan yang dapat di salurkan ke warga masyarakat  berupa penuturan cerita rakyat yang telah tumbuh di tengah masyarakat desa  Amahusu adalah “Asal mula marga MAINAKE”. Marga atau biasa disebut orang ambon dengan istilah fam adalah sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat Maluku. “Fam” dalam masyarakat Maluku menunjukkan identitas, asal usul, serta jati diri dari masyarakat Maluku. Marga merupakan kebanggaan tersendiri dari suatu keluarga yang menunjukkan ciri khas mereka sejak jaman nenek moyang. Cobalah anda mencari tahu asal usul dari begitu banyak marga yang ada di seluruh pelosok kepulauan Maluku. Pasti masing-masing marga mempunyai sejarah yang unik dan membuat marga tersebut mempunyai ciri khas yang membuat marga tersebut memiliki identitas yang berbeda dan memiliki keunikan tersendiri.

SEMOGA BERMANFAAT BAGI KALIAN, SELAKU PENERUS BUDAYA INDONESIA !! :)


10 komentar:

sefthy syahailatua mengatakan...

oh jd ceritanya begitu..
aku baru tauh ?
coba cari yg lain ok

Yollan Deby Leinussa mengatakan...

iaa Sefthy :)
okok
nnt aku cariin yang lain :)
terimakasih uda mengunjungi blogku :)

Riio Tulus mengatakan...

ceritanya bagus :)

Ojanx mengatakan...

Cerita yang memberi saya pengetahuan, terima kasih.
numpangpromo
iklan gratis
pasang iklan gratis

vian mainake mengatakan...

Mantap,, berati beta ini keturunan Raja dong,, i like By Vian Mainake

Jandri Simatauw mengatakan...

Meo lngsung comment?? Asal ktg btaria dia di COC.hhhhhh

Edwin Mainake mengatakan...

Huhuuiiiiii....... mantaapppppp

Denvie Efreyn Mainake mengatakan...

Hi Yollan,
Terimaskih danke banya voor tulisannya.
kalau boleh tau dapat sumber dari mana? supaya ini bisa jadi pegangan voor katong yg vam Mainake.
Terutama mengenai surakarta, karena setahu beta sebelum sampe k ambon dorang 5 itu dari Bali, apa mangkali dari surakarta dulu baru k bali?

Dankje..

Rahayu Ningsih mengatakan...

Saya senang membaca artikel ini.
pasang iklan gratis tanpa daftar
pasang iklan gratis di internet
pasang iklan baris gratis
iklan baris gratis

Michael Mataheru mengatakan...

Bukannya orang Bali itu keturunan Majapahit
Kalau mataheru ada tidak sejarahnya

Posting Komentar