LAPORAN DISKUSI PANCASILA SILA KE 1 & 2

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK II
YOLLAN D LEINUSSA (672012026)
RIFKI A KURNIAWAN (672012059)
KUKUH W SANTOSA (672012200)
IBNU R RAHAYU (672012088)


DOSEN PENGAMPU :
ADRIAN NICOLAS

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INFORMATIKA
SALATIGA
2012

KATA PENGANTAR

    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan anugerah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan yang berkaitan dengan salah satu tugas Pendidikan Pancasila. Terkait dengan itu kami mendapatkan pendalaman terhadap sila pertama dan sila kedua pancasila.
Dalam rangka turut serta memantapkan Pendidikan Pancasila, dan terdorong oleh keinginan suci untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila sesuai dengan tuntunan hati nurani bangsa, kami mencoba membahas kasus-kasus yang berkaitan dengan sila-sila yang terkandung dalam Pancasila terlebih khusus sila Pertama dan sila Kedua. Kasus- kasus yang kami ambil sebagai sample dalam penerapan akan sila Pertama dan sila Kedua.
    Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari pula walaupun telah berhati-hati dalam menggunakan sumber maupun dalam pengkajian isi dan sistematisnya, mungkin masih ada kesalahan dan atau kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, kepada semua pihak, kami selalu menantikan sumbangan pikiran dan kritik-kritik demi penyempurnaan selanjutnya.
    Akhirnya harapan kami, semoga Laporan ini bermanfaat bagi mereka yang mempelajarinya, dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dalam menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Pancasila sebagai dasar Negara, sebagai pandangan hidup bangsa, dan sebagai ideologi Negara Indonesia.


Salatiga,    November 2012


Penyusun


DAFTAR ISI


LEMBARAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I    PENDAHULUAN
A.    Pengantar
B.    Tujuan
C.    Masalah
BAB II  PEMBAHASAN
A.   
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.    Saran   
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


BAB I
PENDAHULUAN

I.1    Pengantar
Pancasila adalah dasar filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam pembukaan UUD 1945, diundangkan dalam Berita Republik Indonesia tahun II No. 7 bersama-sama dengan batang tubuh UUD 1945.
Pancasila sebagai dasar filsafat Negara merupakan hasil kesepakatan bersama yang kemudian disebut sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia, sebagai consensus nasional yang didalamnya terkandung semangat kekeluargaan dan kebersamaan sebagai inti ajaran Pancasila. Dalam memahami semangat kekeluargaan dan kebersamaan untuk mencapai kesepakatan bersama perlu dipelajari sejarah perumusan pancasila, sejak masa pengusulan pancasila, masa proklamasi kemerdekaan, sampai dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dan selanjutnya bangsa Indonesia akan tetap melestarikan pancasila sebagai dasar filsafat Negara Indonesia.
Pancasila juga disebut sebagai ideologi Negara. Ideologi selalu berkaitan dengan pandangan hidup suatu bangsa sebagai dasar filsafatnya yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur yang diyakini kebenarannya. Menurut Koento Wibisino Siswomihardjo (Guru Besar Filsafat), setiap ideologi selalu bertolak dari suatu keyakinan filsafati tertentu, yaitu pandangannya tentang apa, siapa, dan bagaimana manusia itu sebagai pendukungnya, terutama 
Dalam perjalanan sejarah eksistensi Pancasila sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia mengalami berbagai macam interpretasi dan manipulasi politik sesuai dengan kepentingan penguasa demi kokoh dan tegaknya kekuasaan yang berlindung di balik legitimasi ideologi Negara Pancasila. Dengan lain perkataan dalam kedudukan yang seperti ini Pancasila tidak lagi diletakkan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup bangsa dan Negara Indonesia pada zaman yang semakin modern ini.
Masalah yang sering bermunculan di era zaman yang semakin modern ini ada ketidakpatuan kita terhadap ideologi yang dianut yaitu pancasila. Unsur loyalitas pun semakin hari, semakin menipis. Sering sekali masyarakat Indonesia menunjukkan sikap ketidakpedulian terhadap ideologi pancasila, dan pada akhirnya menimbulkan berbagai personalan yang muncul dan dampak dari segala persoalan tersebut adalah persatuan bangsa Indonesia semakin menurun. Terjadi banya kasus-kasus criminal yang menyimpang dari ideologi bangsa tersebut. Sering sekali kita mengabaikan persoalan-persoalan kecil seperti ini, namun tak pernah disadari bahwa lewat persoalan seperti inilah dapat menghancurkan kita. Kurang adanya penghayatan, pengamalan terhadap pancasila tersebut. Dan pancasila tersebut hanya sebagai suatu ideologi yang harus dimiliki setiap Negara, namun tidak perlu menghayati ideologi pancasila tersebut.

I.2    Tujuan
Adapun tujuan yang kami ambil dalam penulisan laporan ini, diantaranya :
I.21    Menggali kembali contoh kasus-kasus penyimpangan terhadap ideologi pancasila, sila pertama dan sila kedua.
I.22    Mencari akar permasalahannya dan mencari solusi penyelesaian terhadap contoh kasus penyimpangan yang terjadi.
I.23    Mengambil kesimpulan

I.3    Masalah
Berbagai kasus penyimpangan pada ideologi pancasila sering kali terjadi. Pelanggaran terhadap sila-sila pancasila seringkali dianggap kasus sepeleh dan di tumpas dengan hal-hal yang biasa, sehingga sering bermunculan kasus-kasus seperti itu.
Kasus-kasus penyimpangan terhadap pancasila yang kami angkat berkaitan dengan sila pertama dan kedua, diantaranya :
I.31    Pada sila pertama mengenai kasus : “Bom Bali Pertama”
I.32    Pada sila kedua, kami mengambil perbandingan antara kasus :
“Gayus Tambunan (Korupsi) dan  anak SMK diduga mencuri sandal polisi”



BAB II
PEMBAHASAN

    Pengantar
o    Kasus Pertama : “Tragedi Bom Bali 2002”
Bom Bali 2002 (disebut juga Bom Bali I) adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan. Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.
Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50-150 kg.
Peristiwa ini memicu banyak dugaan dan prasangka negatif yang ditujugan kepada lembaga pesantren maupun lembaga pendidikan Islam lainnya, disebabkan banyak masyarakat yang menggeneralisasi lembaga keagamaan dan mencurigai bahwa terjadi pencucian otak di dalam pesantren, walaupun belum ada bukti signifikan yang ditemukan atas isu tersebut.

o    Kasus Kedua : “Gayus Tambunan dan Anak SMK yang diduga mencuri sandal polisi”
  Perbedaan antara kedua kasus ini, dalam artian dikatakan pada sila kedua


Kronologi Kasus Gayus
Tudingan adanya praktek mafia hukum di tubuh Polri dalam penanganan kasus money laundring oknum pegawai pajak bernama Gayus Halomoan Tambunan semakin melebar. Tak hanya Polri dan para penyidiknya, Kejaksaan Agung dan tim jaksa peneliti pun turut gerah dengan tudingan Susno Duadji yang mulai merembet ke mereka. Mereka (tim jaksa peneliti) pun bersuara mengungkap kronologis penanganan kasus Gayus, berikut adalah kronologis versi tim peneliti kejaksaan agung.
Kasus bermula dari kecurigaan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terhadap rekening milik Gayus di Bank Panin. Polri, diungkapkan Cirrus Sinaga, seorang dari empat tim jaksa peneliti, lantas melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. Tanggal 7 Oktober 2009 penyidik Bareskrim Mabes Polri menetapkan Gayus sebagai tersangka dengan mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP).
Dalam berkas yang dikirimkan penyidik Polri, Gayus dijerat dengan tiga pasal berlapis yakni pasal korupsi, pencucian uang, dan penggelapan. “Karena Gayus seorang pegawai negeri dan memiliki dana Rp. 25 miliar di Bank Panin. Seiring hasil penelitian jaksa, hanya terdapat satu pasal yang terbukti terindikasi kejahatan dan dapat dilimpahkan ke Pengadilan, yaitu penggelapannya. Itu pun tidak terkait dengan uang senilai Rp.25 milliar yang diributkan PPATK dan Polri itu. Untuk korupsinya, terkait dana Rp.25 milliar itu tidak dapat dibuktikan sebab dalam penelitian ternyata uang sebesar itu merupakan produk perjanjian Gayus dengan Andi Kosasih. Pengusaha garmen asal Batam ini mengaku pemilik uang senilai hampir Rp.25 miliar di rekening Bank Panin milik Gayus.
“Ada perjanjian tertulis antara terdakwa dan Andi Kosasih. Ditandatangani 25 Mei 2008,” kata dia. Menurut Cirrus keduanya awalnya berkenalan di pesawat. Kemudian keduanya berteman karena sama-sama besar, tinggal dan lahir di di Jakarta Utama. Karena pertemanan keduanya, Andi lalu meminta gayus untuk mencarikan tanah dua hektar guna membangun ruko di kawasan Jakarta Utara.
Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan tanah tersebut sebesar US$ 6 juta. Namun Andi, dikatakan Cirus baru menyerahkan uang sebesar US$ 2.810.000. Andi menyerahkan uang tersebut kepada Gayus melalui transaksi tunai di rumah orang tua istri Gayus lengkap dengan kwitansinya, sebanyak enam kali yaitu pada pada 1 juni 2008 sebesar US$ 900.000 US dolar, kemudian 15 September 2008 sebesar US$ 650.000, 27 Oktober 2008 sebesar US$ 260.000, lalu pada 10 November 2008 sebesar US$ 200.000, 10 Desember 2008 sebesar US$ 500.000, dan terakhir pada 16 Februari 2009 sebesar US$ 300.000.
“Andi menyerahkan uang karena dia percaya dengan Gayus. Sementara untuk money laundringnya, dikatakan Cirrus itu hanya tetap menjadi dugaan sebab Pusat pelaporan analisis dan transaksi keuangan (PPATK) sama sekali tidak dapat membuktikan uang senilai Rp 25 milliar itu merupakan uang hasil kejahatan pencucian uang (money laundring). PPATK sendiri telah dihadirkan dalam kasus itu sebagai saksi. Dalam proses perkara itu, PPATK tidak bisa membuktikan transfer rekening yang yang diduga tindak pidana.
Dari perkembangan proses penyidikan kasus tersebut, ditemukan juga adanya aliran dana senilai Rp 370 juta di rekening lainnya di bank BCA milik Gayus. Uang itu diketahui berasal dari dua transaksi dari PT.Mega Cipta Jaya Garmindo. PT. Mega Cipta Jaya Garmindo dimiliki oleh pengusaha Korea, Mr. Son dan bergerak di bidang garmen. Transaksi dilakukan dalam dua tahap yaitu pada 1 September 2007 sebesar Rp 170 juta dan 2 Agustus 2008 sebesar Rp 200 juta.
Setelah diteliti dan disidik, uang itu diketahui bukan merupakan korupsi dan money laundring juga. “Bukan korupsi, bukan money laundering, tapi penggelapan pajak murni. Itu uang untuk membantu pengurusan pajak pendirian pabrik garmen di Sukabumi. Tapi setelah dicek, pemiliknya Mr Son, warga Korea, tidak tahu berada di mana. Tapi uang masuk ke rekening Gayus. Tapi ternyata dia nggak urus (pajaknya). Uang itu tidak digunakan dan dikembalikan, jadi hanya diam di rekening Gayus.
Berkas P-19 dengan petujuk jaksa untuk memblokir dan kemudian menyita uang senilai Rp 370 juta itu. Dalam petunjuknya itu, jaksa peneliti juga meminta penyidik Polri menguraikan di berkas acara pemeriksaan (BAP) keterangan itu beserta keterangan tersangka (Gayus T Tambunan).
Dugaan penggelapan yang dilakukan Gayus itu, diungkapkan Cirrus terpisah dan berbeda dasar penanganannya dengan penanganan kasus money laundring, penggelapan dan korupsi senilai Rp 25 milliar yang semula dituduhkan kepada Gayus. Cirrus dan jaksa peneliti lain tidak menyinggung soal Rp 25 milliar lainnya dari transaksi Roberto Santonius, yang merupakan seorang konsultan pajak. Kejaksaan pun tak menyinggung apakah mereka pernah memerintahkan penyidik Polri untuk memblokir dan menyita uang dari Roberto ke rekening Gayus senilai Rp 25 juta itu.

Sebelumnya, penyidik Polri melalui AKBP Margiani, dalam keterangan persnya mengungkapkan jaksa peneliti dalam petunjuknya (P-19) berkas Gayus memerintahkan penyidik untuk menyita besaran tiga transaksi mencurigakan di rekening Gayus. Adapun tiga transaksi itu diketahui berasal dari dua pihak, yaitu Roberto Santonius dan PT. Mega Jaya Citra Termindo. Transaksi yang berasal dari Roberto, yang diketahui sebagai konsultan pajak bernilai Rp 25 juta, sedangkan dari PT. Mega Jaya Citra Termindo senilai Rp 370 juta. Transaksi itu terjadi pada 18 Maret, 16 Juni, dan 14 Agustus 2009.
Uang senilai Rp 395 juta itu disita berdasarkan petunjuk dari jaksa peneliti kasus itu. Penanganan kasus Gayus sendiri bermula ketika PPATK menemukan adanya transaksi mencurigakan pada rekening Gayus T Tambunan. PPATK pun meminta Polri menelusurinya.
Kembali ke kasus, berkas Gayus pun dilimpahkan ke pengadilan. “Jaksa lalu mengajukan tuntutan 1 tahun dan masa percobaan 1 tahun,”. Dari pemeriksaan atas pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu sebelumnya, beredar kabar bahwa ada "guyuran" sejumlah uang kepada polisi, jaksa, hingga hakim masing-masing Rp 5 miliar.
Diduga gara-gara itulah Gayus terbebas dari hukuman. Dalam sidang di Pengadilan Negeri Tangerang, 12 Maret lalu, Gayus, yang hanya dituntut satu tahun percobaan, dijatuhi vonis bebas. "Mengalirnya (uang) belum kelihatan ke aparat negara atau ke penegak hukum," kata Yunus.
Namun, anehnya penggelapan ini tidak ada pihak pengadunya, pasalnya perusahaan ini telah tutup. Sangkaan inilah yang kemudian maju kepersidangan Pengadilan Negeri Tangerang. Hasilnya, Gayus divonis bebas. “Di Pengadilan Negeri Tangerang, Gayus tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan. Tapi kami akan ajukan kasasi,” tandas Cirrus. Sosok Gayus dinilai amat berharga karena ia termasuk saksi kunci dalam kasus dugaan makelar kasus serta dugaan adanya mafia pajak di Ditjen Pajak. Belum diketahui apakah Gayus melarikan diri lantaran takut atau ada tangan-tangan pihak tertentu yang membantunya untuk kabur supaya kasus yang membelitnya tidak terbongkar sampai ke akarnya. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum meyakini kasus Gayus HP Tambunan bukan hanya soal pidana pengelapan melainkan ada juga pidana korupsi dan pencucian uang. Gayus diketahui kini berada di Singapura. Dia meninggalkan Indonesia pada Rabu 24 Maret 2010 melalui Bandara Soekarno-Hatta. Namun dia pernah memberikan keterangan kepada Satgas kalau praktek yang dia lakukan melibatkan sekurangnya 10 rekannya.
Imigrasi Belum Endus Posisi Gayus, Gayus Tambunan hengkang ke Singapura pada Rabu 24 Maret. Namun posisi pastinya saat ini belum terendus. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum mengatakan kasus markus pajak dengan aktor utama Gayus Tambunan melibatkan sindikasi oknum polisi, jaksa, dan hakim. Satgas menjamin oknum-oknum tersebut akan ditindak tegas oleh masing-masing institusinya, koordinasi perkembangan ketiga lembaga tersebut terus dilakukan bersama Satgas. Ketiga lembaga tersebut sudah berjanji akan melakukan proses internal.Kasus ini merupakan sindikasi (jaringan) antar berbagai lembaga terkait.
Perkembangan selanjutnya kasus ini melibatkan susno duadji, Brigjen Edmond Ilyas, Brigjen Raja Erisman. setelah 3 kali menjalani pemeriksaan, Susno menolak diperiksa Propam. Sebabnya, dasar aturan pemeriksaan sesuai dengan Pasal 45, 46, 47, dan 48 UU No 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Pasal 25 Perpres No I Tahun 2007 tentang Pengesahan Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan, harus diundangkan menteri dalam hal ini Menteri Hukum dan HAM. Komisi III DPR Siap Beri Perlindungan Hukum untuk Susno.
Pada tanggal 30 Maret 2010, Polisi telah berhasil mendeteksi posisi keberadaan Gayus di negara Singapura dan kini tinggal menunggu koordinasi dengan pihak pemerintah Singapura untuk memulangkan Gayus ke Indonesia. Polri mengaku tidak akan seenaknya melakukan tindakan terhadap Gayus meski yang bersangkutan telah diketahui keberadaannya di Singapura.
Pada tanggal 31 Maret 2010, tim penyidik Divisi Propam Polri memeriksa tiga orang sekaligus. Selain Gayus Tambunan dan Brigjen Edmond Ilyas, ternyata Brigjen Raja Erisman juga ikut diperiksa. Pemeriksaan dilakukan oleh tiga tim berbeda. Tim pertama memeriksa berkas lanjutan pemeriksaan Andi Kosasih, tim kedua memeriksa adanya keterlibatan anggota polri dalam pelanggaran kode etik profesi, dan tim ketiga menyelidiki keberadaan dan tindak lanjut aliran dana rekening Gayus.
Pada tanggal 7 April 2010, Komisi III DPR mengendus, seorang jenderal bintang tiga di Kepolisian diduga terlibat dalam kasus Gayus P Tambunan dan seseorang bernama Syahrial Johan ikut terlibat dalam kasus penggelapan pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, dari Rp24 milliar yang digelapkan Gayus, Rp11 milliar mengalir ke pejabat kepolisian, Rp5 milliar ke pejabat kejaksaan dan Rp4 milliar di lingkungan kehakiman, sedangkan sisanya mengalir ke para pengacara..
Efek berantai kasus Gayus juga menyentuh istana. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Satgas Anti Mafia Hukum untuk mengungkap kembali kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). SBY menduga dalam kasus tersebut terdapat mafia hukum.

Kasus pembanding :
“Dituntut 5 Tahun, Selain Dituduh Mencuri Sandal Polisi, Diduga AAL Sempat Dianiaya”

Palu - Pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Palu, di Jalan Tanjung Santigi, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, AAL (15), kini duduk dikursi pesakitan. Sebab, polisi dan jaksa menuduhnya mencuri sandal seharga Rp30 ribu milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap. Kini bocah itu akan didampingi 15 pengacara selama proses persidangan.
"Kami semua merasa terpanggil untuk mendampingi terdakwa lantaran dari sisi kemanusiaan kami merasa kasus ini dapat diselesaikan secara damai. Tidak semua hal ini hanya bisa diselesaikan di depan pengadilan," kata salah seorang pengacara AAL, Johanes Budiman Napat kepada wartawan di kantornya, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, Rabu, (21/12/2011).
Elvis S Katuvu, ketua Tim Penasehat Hukum yang mendampingi anak ini mengatakan sebelum ini mereka sudah melaporkan Briptu Ahmad Rusdi Harahap ke Divisi Profesi dan Pengamanan Polda Sulteng terkait penganiayaan yang dilakukan anggota Polri itu pada AAL. Rupanya pada Mei 2011, Ahmad Rusdi pernah memanggil AAL bersama temannya.
"Saat itu AAL diduga sempat dipukuli oleh Ahmad Rusdi dan temannya sesama Polisi. Badannya memar. Bahkan diduga AAL dipukuli dengan kayu," ujar Elvis.
Elvis pada persidangan Selasa, 20 Desember kemarin, Elvis sudah menanyakan hal itu pada saksi. Namun tidak dijawab oleh saksi.

"Namun, meski kami sudah laporkan ke Propam, kasus ini belum kami ketahui bagaimana kelanjutannya," kata Elvis.
Seperti diketahui, AAL duduk dikursi pesakitan karena dituduh mencuri sandal. Dalam paparan dakwaan Jaksa, kisah ini bermula pada November 2010 ketika AAL bersama temannya lewat di Jalan Zebra di depan kost Briptu Ahmad Rusdi Harahap.
Saat itu AAL melihat ada sandal jepit dan kemudian mengambilnya. Jaksa dalam dakwaannya menyatakan AAL melakukan tindak pidana sebagaimana pasal 362 KUHP Pidana tentang pencurian dan diancam 5 tahun penjara.

    Pembahasan
Manusia Dalam mewujudkan tujuannya untuk meningkatkan harkat dan martabatnya, dalam kenyataannya senantiasa membutuhkan orang lain. Oleh karena itu manusia membutuhkan suatu lembaga bersama untuk melindungi haknya, dan dalam pengertian inilah manusia membentuk Negara. Negara sebagai lembaga kemasyarakatan, sebagai organisasi hidup manusia senantiasa memiliki cita-cita harapan, ide-ide serta pemikiran-pemikiran yang secara bersama merupakan sutu orientasi yang bersifat dasariah bagi semua tindakan dalam hidup kenegaraan. 

Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berketuhanan Yang Maha Esa.
Dasar ontologism Negara kebangsaan Indonesia yang berdasarkan pencasila adalah hakikat manusia “monopluralis”. Manusia secara filosofis memiliki unsure “susunan kodrat” jasmani (raga) dan rohani (jiwa), sifat kodrat sebagai makhluk individu dan social, serta “kedudukan kodrat” sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa serta sebagai makhluk pribadi.
Landasan pokok dalam sila pertama ini adalahTuhan adalah Sang Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu setiap individu yang hidup dalam suatu bangsa adalah makhluk Tuhan maka bangsa dan Negara sebagai totalitas yang integral adalah Berketuhanan, demikian pula setiap warganya juga berKetuhanan Yang Maha Esa.
Kasus diatas menunjukkan bahwa terjadi perseteruan antara dua agama. Dimana dalam kaitannya dengan perselisihan antara agama Muslim dan Non Muslim. Ada pula keterkaitannya dengan Jihad.
Jihad adalah perang suci yang bertujuan untuk menegakkan atau meninggikan agama Allah. Dan dengan jihad agar Allah saja yang dibadahi di muka bumi. Kesalapahaman inilah yang membuat terjadinya bom Bali.
Karena tujuan jihad yang begitu agung, maka ada adab-adab yang harus dipatuhi, sehingga tidak akan ada yang teraniaya. Dalam Islam, menahan dan membalas serangan musuh adalah jihad. Begitu juga membela darah, kehormatan dan harta benda umat Islam adalah jihad. Jihad dalam hal ini, juga dituntut untuk mematuhi terhadap adab-adab jihad yang ada. Maka di sinilah letak perbedaan perang di jalan Allah dengan perang di jalan Syaithon.
Dari sinilah setiap terorisme yaitu Amrozi CS bermain. Mereka mengacaukan bali dengan meletakkan bom, sehingga bom itu menghancurkan bali.

Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berkemanusiaan Yang Adil dan Beradap.
 Pada kasus seperti ini, kita harus bisa menempatkan diri kita dalam memproses kasus-kasus ini, dan haruslah adil dalam menyikapi hal-hal seperti ini. Kasus Gayus, memang harus ditumpas habis dan harus dengan bersikap manusiawi dan adil. Bukan karena uangnya banyak, dan kita meloloskan dia dalam kasus korupsi.
Sedangkan untuk sandal jepit kita harus bersikap adil juga, dengan menanyakan dan mengumpulkan bukti dulu, sebelum menuduhnya. Apalagi, yang dicuri sendalnya adalah pihak berwajib yang biasanya berhubungan langsung dengan masyarakat. Maka dalam menghadapi masalah-masalah ini, haruslah bersikap dengan seharusnya.

    Solusi
Solusi dari kasus sila pertama ini adalah :
1. Berantas Terorisme, dan jangan mudah terpancing dengan isu-isu yang beredar.
    2. Berjihad yang melakukan kehendak Allah, bukan membunuh orang.
3. Hiduplah saling menghormati diantara kehidupan beragama, karena itu penghayatan terhadap sila pertama.
4. pihak kepolisian harus membasmi setiap tindakan criminal yang melanggar sila pertama.
   
Solusi untuk kasus sila kedua adalah :
1.    Pihak-pihak (Pejabat-pejabat Tinggi) harus berlaku adil dalam melakukan segala sesuatu, contohnya dalam menguntas kasus-kasus korupsi.
2.    Melihat kata adil, berarti kita tidak boleh menimbang sebelah. Dan sebenarnya pada kasus sandal jepit, anak itu memang harus di hukum kalau memang betul-betul dia melakukan pencurian sandal. Namun, sebagai warga Negara yang baik, kita harus mendudukan persoalan dulu, sebelum kita mengambil keputusan. Sehingga tidak terjadi penyimpangan seperti pemukulan sampai bebak belur.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Pancasila sebagai dasar negara republik sebelum disahkan pada tanggal 18 agustus tahun 1945 oleh PPKI, nilai-nilainya telah ada pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum bangsa Indonesia mendirikan Negara, yang berupa nilai-nilai adat-istiadat, kebudayaan, kebudayaan serta nilai-nilai religious.
Nilai-nilai tersebut telah ada dan melekat serta teramalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pandangan hidup, sehingga materi Pancasila yang berupa nilai-nilai tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri, sehingga bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Nilai-nilai tersebut kemudian diangkat dan dirumuskan secara formal oleh para pendiri Negara untuk dijadikan sebagai dasar filsafat Negara Indonesia. Nilai-nilai ini terkandung pada sila pertama, kedua, ketiga, keempat dan sila terakhir kelima. Sila-sila tersebut harus dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah Mengembangkan sikap saling hormat-menghormati antara agama.

3.2    Saran
Dalam penghayatan terhadap sila-sila pancasila sebaiknya, tidak dilakukan penyimpangan-penyimpangan. Dan perlu serius dalam menyikapi kasus-kasus yang berkembang di Negara Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

1.    Kaelan. 2001.Pendidikan Pancasila, Yogyakarta : Paradigma
2.    Setiadi,Elly,M.2003.Panduan Kuliah Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
3.    http://id.wikipedia.org/wiki/Gayus_Tambunan
4.    http://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2002#Kronologi
















4 komentar:

Rifki Adi Kurniawan mengatakan...

penjelasan kasus lengkap.. nice....

Yollan Deby Leinussa mengatakan...

Terimakasih :)

Bahtiyar Hidayat mengatakan...

penjelasan sama materinya bagus sekali...

http://sidoarjopos.com

noviarema mengatakan...

mantap , terima kasih pak...!

Poskan Komentar